Aplikasi Pendidikan Kepramukaan untuk Mengantisipasi Dampak Perkembangan IPTEK Abad 21 Berbasis Sekolah

Oleh: YASSER ARAFAT AMP, S.Pd

Memasuki abad ke-21, penduduk Indonesia, terutama generasi mudanya, mengalami perubahan-perubahan yang sangat mendasar. Generasi muda Indonesia menghadapi tantangan global yang dahsyat. Apabila tidak ditingkatkan kemampuannya bisa menyebabkan mereka mengalami frustasi mental spiritual yang sangat berat.

Ketertinggalan itu makin diperberat karena tidak semua anak-anak dan remaja, bisa ikut serta dalam Gerakan Pramuka. Padahal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut pengembangan diri bagi siswa-siswa SD hingga SMA, dan kegiatan kepramukaan adalah salah satu contoh dari kegiatan tersebut. bukankah, keikutsertaan dalam kepramukaan dapat mengembangkan anak-anak dan remaja unggul yang berwatak, berkepribadian, berbudi pekerti luhur dan mempunyai sikap mandiri dalam kebersamaan dan persaudaraaan

Tantangan abad ke-21 yang penuh godaan hidup hampir tanpa kendali, meluasnya penggunaan obat terlarang, menyebarnya virus HIV/AIDS, konflik berkepanjangan yang memisahkan hubungan perdamaian dan persahabatan yang sejuk. Disisi lain perkembangan IPTEK yang mestinya dimanfaatkan, malah disalah gunakan, sehingga hal tersebut malah menjadi bumerang bagi generasi muda Indonesia. Kesemua hal itu hanya dapat ditanggulangi kalau anak-anak dan generasi muda mampu menyerap ajaran-ajaran kepanduan yang kita yakini bisa memberi pembekalan yang diperlukan untuk mengembangkan watak dan kepribadian tangguh.

Keanggotaan gerakan pramuka bersifat sukarela, tidak membedakan suku, ras, golongan, dan agama. Semuanya bisa bergaul dan berbaur menjadi satu kesatuan. Kegiatan kepanduan selalu mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan zaman. Ketika Word Organizations Scout Movement (WOSM) mencanangkan program Pramuka Net bagi negara-negara anggota di seluruh dunia untuk memiliki situs organisasi, Gerakan Pramuka Indonesia pun ikut serta dengan meluncurkan situs www.pramuka.co.id. Tujuannya agar mempermudah jalur komunikasi dan koordinasi, serta memantau perkembangan kepanduan di setiap negara anggota WOSM.

Sebagai bukti, setiap tahunnya WOSM mengadakan Jambore On The Internet (JOTI) dan Jambore on The Air (JOTA). Artinya, jambore tak hanya menjadi pesta yang mempertemukan pesertanya langsung, tapi juga bisa sesama netter (pengguna internet) untuk bisa melakukan kegiatan bersama.

Dari sinilah nampak jelas buah dari gagasan brilian seorang Baden Powell, selain berbagai kegiatan kepanduannya yang gaul, juga mampu menyatukan generasi muda antara bangsa antar benua. Ia pun mewariskan banyak manfaat dari kegiatan kepanduan, yang sebagian tidak didapat dalam materi dikelas.

Nah sekarang, mampukah KTSP melalui pengembangan dirinya melakukan hal yang demikian? Jawabnya, optimis bisa, asalkan kegiatan kepramukaan dikelola secara profesional, dan meninggalkan kesan musiman dan tradisi. Aplikasi pendidikan kepramukaan sangat dituntut untuk membawa perubahan sikap bagi generasi muda dalam mencegah pengaruh negatif dari perkembangan IPTEK yang rancang khusus pada abad-21 ini. Semoga.

Tulisan ini dipublikasikan di Informasi, Posting in Blogspot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s