Wajo Disulap Jadi Lumbung Sutra

Kabupaten Wajo akan menjadi lumbung sutra di negara ini. Rencana tersebut sementara dalam tahap penyusunan teknis oleh pemerintah pusat.

Saat ini pemerintah mempersiapkan bibit unggul (telur ulat/kokon) untuk dikembangkan di Wajo. Bukan hanya itu, pemerintah sekarang terus mengedepankan program-program pro rakyat pada bidang pertanian, perlindungan sosial melalui program subsidi, dan perlindungan bahan pangan bagi warga miskin. Hal itu menjadi inti sambutan Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa saat bertandang di Bumi Lamaddukkelleng, kemarin.

Hatta Rajasa datang bersama Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan, dan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Dia tiba di Lapangan Trikora Sompe Sabbangparu, Jumat, kemarin. “Kedatangan kami ke Wajo untuk mendengarkan keluhan masyarakat, utamanya dalam mengembangkan usaha dan perekonomian mereka.

Pemerintah kini terus mengembangkan program-program pro rakyat, perlindungan sosial masyarakat, dan perlindungan pangan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ke depan, Wajo akan kami jadikan sebagai daerah lumbung pangan di negara ini,” kata Hatta. Hatta mengatakan, pengembangan sutra di Wajo harus mendapat dukungan mulai hilir hingga hulu. Pemerintah pusat akan membantu pemerintah dan masyarakat Wajo dalam pengembangannya. Karena sutra merupakan komoditas utama untuk menjadi bahan pengembangan bagi masyarakat Wajo.

Sementara Bupati Wajo H Andi Burhanuddin Unru mengatakan, pemerintah terus menggenjot beberapa program kerja yang berpihak kepada rakyat, utamanya bagi para petani. Ditambah warga miskin dan para pengusaha pengembangan budidaya sutra. Dijabarkannya, sebanyak 48 persen penduduk di Wajo menggantungkan hidup pada empat lapangan kerja sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Khusus bidang pertanian, Pemkab Wajo 2010 lalu, telah mengucurkan beberapa bantuan kepada para petani berupa bantuan traktor, bibit tanam, pupuk, dan sapi ternak sebanyak 500 ekor. Meski saat ini Pemkab Wajo masih terus mengupayakan bantuan-bantuan bagi para petani dan masyarakat miskin. Tahun 2011 ini, kata dia, Pemkab Wajo masih akan menggulirkan bantuan sapi ternak kepada petani dan warga miskin sebanyak 750 ekor, traktor 700 unit, dan bantuan bibit tanam, pupuk bersubsidi, serta beberapa bantuan lainnya.

Bupati juga menuturkan bahwa pemerintah terkendala dengan minimnya sarana pengairan. Akibatnya, sebanyak 74 ribu hektare sawah di Wajo hingga kini hanya mengandalkan tadah hujan sebagai sumber utama pengairan mereka. “Padahal, jika seluruhlahan tersebut terairi, program surplus beras dua juta ton Sulawesi Selatan akan semakin meningkat,” katanya. Secara grafik, tuturnya, produksi beras 2010 lalu meningkat 18 persen atau sebesar 338 ribu ton dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 294 ribu ton. Jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi beras di dalam daerah Wajo, maka kontribusi hasil produksi padi di Wajo terhadap ketersediaan surplus beras dua juta ton program Pemprov Sulsel mencapai 285 ton atau sebesar 14 persen.

Orang nomor satu Wajo ini juga mengungkap bahwa, Wajo adalah tempat pembudidaya sutra, keindahan dan produktivitas sutra Wajo mampu merambah ke tingkat nasional hingga pada skala internasional. Namun dalam pengembangan sutra, masyarakat utamanya kalangan wanita pengusaha sutra terkendala dengan minimnya bibit unggul ulat sutra. “Kemampuan produksi sutera sangat terbatas diakibatkan oleh keterbatasan bibit. Padahal sekitar 20 ribu tenaga kerja di Wajo yang mengandalkan sumber pendapatannya pada budidaya dan olah tenun sutra. Jika jumlah itu produktif maka pendapatan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat akan meningkat hingga mencapai dua triliun per tahun,” papar bupati.

Sementara Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Sulsel, termasuk Wajo keturunan Bugis-Makassar adalah penyanggah pangan program pemerintah pusat. “Tidak ada salahnya jika Sulawesi Selatan diberi bantuan karena orang Bugis-Makassar memiliki rasa nasionalisme tinggi. Sulsel siap menjadi penyanggah program nasional dan penyanggah orang miskin,” kata Syahrul. Sementera Menteri Kehutanan mengatakan, pihaknya menyediakan lahan hutan seluas 1070 hektare untuk dikelola oleh masyarakat. Lahan tersebut harus diberdayakan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Itu karena saat ini masih banyak pohon yang bagus untuk menjadi serapan air di Wajo. “Pemerintah menyediakan lahan penanaman pohon murbei seluas lima ribu hektare,” terang Zulkifli.

Kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan sertifikat izin impor telur sutra, sertifikat hutan taman rakyat, kredit usaha takyat kepada masyarakat. Masing-masing dari BRI Cabang Sengkang, BNI Cabang Sengkang, dan Bank Mandiri Cabang Sengkang. Seluruh bantuan diserahkan secara simbolis oleh Menko Perekonomian RI kepada Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru dan beberapa warga lainnya. Pemkab Wajo juga menerima bantuan satu unit mesin pemintal benang sutra dari Menteri Kehutanan. (win)

http://www.parepos.co.id/read/34799/35/wajo-disulap-jadi-lumbung-sutra
About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s