Perempuan-Perempuan Bugis Pengukir Sejarah

Kesetaraan gender antara perempuan dan lelaki sejak lama sudah terjadi dalam tradisi Bugis. Hal ini diukir oleh sejarah perempuan-perempuan yang sempat berkuasa di Bugis.

Sejak zaman dahulu, perempuan tidak hanya dijadikan sebagai simbol kejelitaan yang mengurus rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Namun, perempuan juga ikut berperan pada sosial budaya dan politik. Kesetaraan hak politik perempuan ini diterima secara sadar dan bertanggung-jawab hampir di semua wilayah Bugis.

Perempuan-perempuan Bugis yang diangkat jadi raja tidak hanya dari turunan bangsawan, namun juga ada dari rakyat jelata. Pemilihan raja ini didasarkan pada kecakapan individual dan kolektif yakni kualitas kemanusiaannya tinggi. Pemimpin yang baik bagi masyarakat Bugis adalah pemimpin yang cendekia yang jujur, berani dan teguh pada pendirian yang benar.

Berikut perempuan Bugis yang pernah memerintah di masing-masing wilayah:

  1. Siti Aisyah We Tenri Olle (Raja Tanete, Barru 1855-1910)
  2. Adatuang We Abeng (1634, Ratu Sidenreng)
  3. Datu Pattiro We Tenrisoloreng (1640-Bone)
  4. We Batari Toja Daeng Tallang (1724 – Bone)
  5. Adatuang Adi We Rakkia Karaeng Kanjenne (1700an, Sidenreng)
  6. Soledatu We Ada (ratu Soppeng, istri Arung Palakka, 1670)
  7. We Maniratu Arung Datak (1840-Bone), Besse Kajuara (1860-Bone)
  8. Andi Ninong dan Petta Ballasari (Ranreng Matoa Wajo, abad 20)
  9. Andi Depu (1946, Mandar),
  10. Andi Pancaetana (1915, penguasa Enrekang).
  11. We Tenri Rawe (Raja/Pajunge ri Luwu, abad 14)

Dalam buku “History Of Java” (1817), Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya.

“The women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi).

[Perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran hak pribadi atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, dibanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain

http://www.kabarmakassar.com

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Informasi, Nasionalisme. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s