Dua Jam Bersama Kang Maman

Maman2Ahad, (15/03/2015), Bertempat di Balai Bausat Center (BBC) Hotel Sengkang, 7 anggota Cemara Scout Community (CSC) Maniangpajo bersama dengan sekitar 300-an Pelajar/Mahasiswa/Guru/Dosen se-Kabupaten Wajo menghadiri Seminar Nasional “Menulis: Wujudkan Tugas Kenabian dari Gelap Menuju Cahaya” yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIA Puangrimaggalatung Sengkang. Ketujuh Anggota CSC tersebut adalah Mardiwansyah, Muhammad Abu Rizal Darwis, Jumriadi, Andi Wahyuni, Hamrina, Nurfadillah, dan Nurkhalizah. Selain itu, juga didampingi oleh Yasser Arafat, S.Pd., Muhammad Tang, S.Pd., M.M., dan Nurdin, S.Pd.

Pembicara utama pada kegiatan ini adalah Drs. H. Maman Suherman yang lebih akrab disapa Kang Maman. Dari Website http://www.penerbitkpg.com dituliskan bahwa Maman Suherman lahir di Makassar, 10 November 1965. Menempuh beragam pendidikan, namun hanya lulus dari Jurusan Kriminologi, FISIP – UI. Bertumbuh sebagai jurnalis selama 15 tahun (1988-2003), dari reporter hingga menjadi pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia. Ia pernah juga menjadi Direktur Produksi hingga Managing Director (2003-2011) di Biro Iklan & Rumah Produksi Avicom. Penggagas Panasonic Gobel Awards ini memutuskan untuk tidak berkantor lagi, dan kini menjadi ‘’pemulung kata-kata’’. Sempat menjadi presenter untuk acara di KompasTV, kini ia menjadi konsultan kreatif dan No Tulen acara ‘Indonesia Lawak Klub’ di Trans7. Re adalah buku keempatnya bersama penerbit KPG. Sebelumnya telah terbit Matahati (2012), Bokis 1: Kisah Gelap Dunia Seleb (2012), dan Bokis 2: Potret Para Pesohor (2013).

Mengawali pembicaraannya, Kang Maman menuturkan bahwa nama asli pemberian dari orang tuanya adalah Muhammad Suherman. Namun, karena disingkat M. Suherman, oleh Gurunya yang orang Sunda menulis di Ijazah menjadi Maman Suherman.

Selama lebih kurang 2 (dua) Jam, Kang Maman memotivasi Generasi Muda Kabupaten Wajo untuk terus menulis. Menurutnya, sesuatu yang paling sulit  disaat menulis adalah memulainya. Sehingga, harus memberanikan diri untuk menulis. Hanya saja, menulis tentunya memiliki etika-etika yang perlu diperhatikan.

Sebuah pesan tersirat yang disampaikan Kang Maman adalah membangkitkan semangat menulis utamanya menulis  tentang Budaya Kabupaten Wajo. Menurutnya Budaya Bugis memiliki keunikan tersendiri dan diantaranya tertuang dalam kisah Sawerigading dan I Lagaligo.

Dalam kesempatan tersebut, juga disediakan doorprize kepada Peserta Seminar yang beruntung. Salah seorang Anggota CSC, Nurfadillah menjadi salah seorang dari peserta yang beruntung dan mendapatkan buku “Notulen Cakeppp!” karya Kang Maman.

Mardiwansyah, salah seorang anggota CSC lainnya menyampaikan rasa syukurnya mengikuti kegiatan tersebut. Bukan hanyakarena ketemu dengan tokoh yang sering muncul di Televisi, melainkan karena dapat menambah ilmu terutama dalam mengasah diri menulis.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, BEM STIA Puangrimaggalatung Sengkang melaksanakan kegiatan Lomba Menulis tentang Puangrimaggalatung. Demikian disampaikan oleh Arman, Presiden BEM STIA Puangrimaggalatung Sengkang


Maman1

Pos ini dipublikasikan di Berita, Pramuka dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s