KENAPA MESTI TAKUT SEKOLAH DI BULAN RAMADHAN???

Accher 2015Ramadhan 1436 H adalah sebuah moment liburan jamak bagi pelaku-pelaku pendidikan di Satuan Pendidikan diseluruh penjuru tanah air termasuk di Kabupaten Wajo. Bagaimana tidak??? Ramadhan kali ini hampir bersamaan dengan liburan akhir semester 2. Sehingga, setelah liburan semester lanjut dengan libur Bulan Ramadhan.

Sejak masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie, libur selama Bulan Ramadhan diberlakukan. Meski, seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah, beberapa daerah kembali melaksanakan sekolah pada Bulan Ramadhan. Namun, hingga sekarang di Kabupaten Wajo masih libur selama Ramadhan.

Menanggapi liburan berkepanjangan tersebut, penulis menuangkan sebuah status dalam akun facebook berbunyi “Siswa zaman sekarang, disaat belajar ibarat mengisi air kedalam gelas yang kosong. Sedangkan disaat libur ibarat mengosongkan gelas yang sudah terisi”. Rangkaian kalimat tersebut adalah sebuah mimpi agar tetap ada aktivitas pembelajaran di Sekolah selama Bulan Ramadhan khususnya di Kabupaten Wajo.

Mimpi tersebut sebenarnya sudah muncul sejak lama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis sejak tahun 2008, sekitar 85% peserta didik tidak mengulangi pelajarannya selama liburan, dan sekitar 75% peserta didik kaku menulis dihari pertama sekolah setelah libur Bulan Ramadhan.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa, peserta didik kita memanfaatkan waktu liburnya dengan minim aktivitas bermanfaat. Liburan puasa hanya dimanfaatkan untuk begadang, main kartu, ber-sosmed ria, memperbanyak tidur, dan lain-lain. “Malam susah tidur, pagi susah bangun” adalah pelajaran yang tiap hari diterima oleh sebagian besar peserta didik kita di rumah. Dengan demikian, menurut hemat penulis, dalil agar peserta didik fokus beribadah sehingga sekolah diliburkan sebulan penuh adalah sebuah alasan yang tidak tepat. Bukankah belajar di sekolah juga adalah ibadah?

Penulis masih ingat waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung dan setiap hari ditutup dengan Shalat Dhuhur berjamaah. Sebuah aktivitas yang tidak pernah dilaksanakan diluar Bulan Ramadhan. Aktivitas inipun masih berlanjut saat penulis duduk dibangku SMP. Sayangnya, disaat penulis duduk di bangku SMA, aktivitas ini tidak pernah penulis temui lagi selama 3 tahun. Hingga akhirnya disaat Penulis melanjutkan pendidikan di Program Strata Satu maupun Program Pasca Sarjana, penulis merasakan kesejukan tersendiri dengan mengikuti perkuliahan sambil melaksanakan ibadah puasa.

Jika sekolah umum melaksanakan aktivitas layaknya sebuah pesantren, aktivitas belajar mengajar terlaksana dibarengi dengan pelaksanaan amaliah Ramadhan, menurut pandangan penulis, bahwa inilah pesantren kilat yang sesungguhnya. Ramadhan 1435 H yang lalu, penulis sempat menggagas sebuah acara “Pesantren Kepemimpinan” yang kala itu mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Meski pesertanya adalah peserta didik dari sekolah umum, namun karena dipondokkan, menjadikan suasana ramadhan kala itu bagai berada dalam lingkungan pesantren.

Sejalan dengan itu, Berdasarkan catatan sejarah yang pernah penulis baca, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan III di Tahun 1978, Daoed Joesoef memperpanjang tahun ajaran. Waktu itu beliau baru saja diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri. Sebelum Daoed jadi menteri, kalender pendidikan berlangsung dari 1 Januari sampai 31 Desember. Namun sejak tahun 1979, tahun ajaran berlangsung dari 1 Juli dan berakhir 30 Juni tahun berikutnya. Ini dengan alasan untuk menyesuaian dengan kalender pendidikan di Negara-negara maju. Namun, sebuah perubahan yang dilakukan oleh Daoed, yang waktu itu memancing polemik tajam terutama dari tokoh agama yaitu kebijakan sekolah dibulan Ramadhan. Sampai tahun 1978, libur panjang anak sekolah (SD sampai SMA) dipaskan dengan datangnya bulan puasa. Artinya selama bulan Ramadhan sekolah diliburkan, dengan maksud anak-anak bisa berkonsentrasi menjalankan ibadah. Begitu beliau jadi Menteri, kebijakan berubah, libur hanya berlangsung beberapa hari di awal puasa dan sekitar lebaran. Menurut beliau, puasa bukan alasan untuk tidak belajar di sekolah sebagaimana juga orang kantoran bekerja.

Dengan demikian, “Kenapa Mesti Takut Sekolah di Bulan Ramadhan?”. Bukankah belajar adalah sebuah ibadah? Bukankah ibadah dibulan Suci Ramadhan dilipatgandakan pahalanya? Mudah-mudahan, tulisan ini menjadi rekomendasi untuk melaksanakan PBM di Bulan Suci Ramadhan seperti yang pernah diterapkan oleh Bapak Daoed Joesoef.

Selamat Menjalankan Ibadah Amaliah Ramadhan, mudah-mudahan menjadi berkah sehingga menjadi syafaat di akhir zaman.

Pos ini dipublikasikan di Accher Blog, Accher Online, Nasionalisme dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s